Jakarta-Kobar.id MAMPUKAH AHOK PECAHKAN MASALAH BANJIR JAKARTA?
Salah satu issue digunakan para pendukung buta Ahok, yakni Ahok mampu dan bahkan telah berhasil urus banjir Jakarta. Sebagai misal, Ketua Umun Golkar, SN dan seorang anggota WAG Aktivis 77/78. Ketua Umum Golkar klaim, Ahok menjalankan dengan terobosan benar. “Apa dilakukan selalu dengan perasaan benar. Di DKI biasa banjir, sekarang enggak banjir lagi”.
Sementara anggota WAG Aktivis 77/78 berucap: “Belum pernah ada sepanjang sejarah Gub. DKI yang bisa membuat DKI bebas banjir. 2013 saja DKI Banjir besar sampai di basemant gedung UOB Jl. Sudirman banyak orang meninggal dan mobil terjebak di dalamnya. Ini tahun 2006 hanya 3 tahun sesudahnya banjir itu tidak ada. Luar biasa. Hal seperti ini tentu saya hormati. Saya dukung”.
Tentu ungkapan soal banjir di atas tergolong “buta data, fakta dan angka”. Pertama, 2013 terjadi banjir bukan Era Gub. DKI sebelumnya (Sutioso atau Foke), justru Era Jokowi-Ahok. Kedua, 2016 terjadi banjir bahkan lebih parah lagi. Banjir Jalan Terus.
Banjir dan genangan air merupakan salah satu masalah utama DKI Jakarta. Mengacu pada Perda No. 2/2012 tentang RPJMD Prov.DKI Jakarta 2013-2017, salah satu misi DKI adalah menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas dari masalah-masalah seperti macet, “banjir”, permukiman kumuh, sampah dll. Terkait masalah banjir, sasaran adalah tersedianya sistem tata air yang optimal dalam mendukung upaya pengendalian banjir, banjir rob dan dampak perubahan iklim lainnya. Capaian target banjir diharapkan, yakni target lokasi rawan banjir 62 lokasi awal (2002) menjadi 55 lokasi (2013), 50 lokasi (2014), 48 lokasi (2015), 45 lokasi (2016), dan 42 lokasi (2017). Sedangkan capaian target diharapkan titik genangan jalan arteri/kolektor dari 13 titik menjadi 0 titik pada 2017.
Strategi operasional untuk pengendalian banjir dan genangan ini meliputi: 1).Pengembangan instrument pengendalian pencemaran air; 2). Pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sistem drainase; 3). Konservasi sumberdaya air; dan, 4). Pengendalian banjir akibat air laut pasang.
Arah kebijakan pembangunan berdasarkan pilihan strategi, pengembangan dan pengelolaan sistem tata air terpadu pada 2013, 2014, 2015, 2016 dan 2017. Kebijakan umum terkait banjir, yakni pengendalian banjir antara lain melalui Pengembangan Waduk Tangkapan Air di Hulu (Waduk Ciawi, Waduk Cimanggis), pembangunan tanggul-pengaman Rob.
Program unggulan isu antisipasi banjir, rob dan genangan, mencakup:
Program pembangunan prasarana dan sarana pengendalian banjir.
Pengembangunan situ, waduk dan embung.
Penguatan tanggul.
Pembuatan sumur resapan dan lubang biopori.
Pembangunan terowongan bawah tanah multifungsi.
Program pengembangan sistem drainase
Pengembangan sistem polder.
Normalisasi sungai dan saluran.
Pengerukan sungai dan saluran.
Berdasarkan pelaksanaan program dan capaian target diharapkan, maka pada 2016 titik lokasi banjir harusnya tinggal 45 lokasi lagi. Namun fakta menunjukkan, masih melebihi 45 lokasi banjir. Capaian target diharapkan titik genangan air di jalan arteri/kolektor dari 13 titik menjadi 0 titik 2017 masih jauh dari kenyataan. Pada medio 2016 masih terdapat belasan titik genangan air. Masih sangat jauh dari capaian target diharapkan.
Pada 2014 hujan deras mengguyur Jakarta. Akibatnya terjadi banjir di beberapa titik, termasuk kawasan Pademangan. Ahok sendiri bingung dengan kondisi banjir di kawasan perumahan dan sejumlah titik genangan di jalan. Ia berkilah, genangan terjadi karena hujan turun bertepatan dengan air laut pasang. Selain itu, karena belum siapnya tanggul setinggi 3,8 Meter di pantai utara Jakarta, dan pengelolaan sistem pompa belum berjalan masimal. Ahok heran, warga tinggal di sepanjang aliran sungai masih terdampak banjir. Sebaliknya, Ia justru mengakui, beberapa tempat di Jakarta Selatan dan Timur pasti tenggelam karena tinggal di daerah aliran sungai. Bahkan, Ahok juga berkilah, fenomena La Nina terjadi di permukaan bumi, turut mempengaruhi banjir di Jakarta.
Bagaimana kondisi 2015? Masih juga terjadi banjir. April 2015 banjir cukup merata di sejumlah Ibukota. Jakarta Utara, Timur, dan Selatan merupakan wilayah paling parah terkena dampak banjir. Kampung Pulo dan Bukit Duri masih terendam banjir. Rancangan sodetan 1,2 Km hingga Kanal Banjir Timur (KBT) masih belum terealisir. Ibukota masih terancam mengalami banjir.
Pada 2016 ini terjadi banjir terbesar sejak 2007. Pada 2016 titik lokasi banjir harus tinggal 45 titik lokasi lagi. Namun, banjir jalan terus masih melebihi 45 titik lokasi.
Pada 20- 21 April 2016 Jakarta dan sekitarnya kembali kebanjiran cukup merata mengikuti turunnya hujan deras . Banjir ini termasuk paling dahsyat dan terbesar sejak 2007 karena terdapat lokasi banjir kedalaman air hingga 5 Meter. Banjir mencapai kedalaman air antara 20 hingga 100 Cm di Pademangan, Jakarta Utara. Bahkan, ketika banjir terjadi di Cawang Maret sebelumnya, kedalaman air mencapai 20 Cm hingga 1,5 M. Di Kampung Makasar tergolong parah, sehingga harus dikerahkan perahu karet. Banjir mencapai ketinggian dada orang dewasa. Rumah-rumah kebanjiran, dan kegiatan sekitar wilayah itu lumpuh.
Juni 2016 banjir juga meredam sejumlah wilayah di Jakarta Pusat. Bahkan, di depan Istana Negara, Merdeka Barat, tergenang air sedalam lutut orang dewasa. Akibatnya, arus lalu lintas di depan Istana Negara menjadi macet. Selain itu, banjir juga meredam sejumlah wilayah di Jakarta Pusat seperti di Jalan Hasyim Ashari, Jalan Mereka Timur, Jalan Batu Tulis Raya Pecenongan, dan wilayah Sawah Besar. Di Jakarta Selatan banjir terjadi di depan Gandarya City. Kemudian, di Jakarta Utara banjir terjadi di Jalan Gaya Motor Barat, Sunter. Banjir juga terjadi di depan Universitas Tarumanegara Jalan S. Parman Grogol Jakarta Barat.
Juli 2016 hujan deras mengguyur Jakarta membuat sejumlah ruas jalan tergenang air. Ketinggian air menggenangi sejumlah ruas jalan mulai dari 20 Cm hingga 1 meter. Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan akibat genangan air di Jl. Gatot Subroto depan Balai Kartini. Di kawasan Kuningan, genangan air terjadi di Jalan HR Rasuna Said depan Plaza Kuningan, selepas flyover Kuningan aras Pancoran dengan ketinggian air 25-30 Cm. Ruas jalan Pangeran Antasari dekat Pasar Cipete pun tak luput dari genangan air dengan ketinggian 20 Cm. Begitu pula Jalan Wijaya, Jakarta Selatan dengan ketinggian air 20 Cm. Genangan air terparah berada di Pasar Kambing, Jalan Kemang Utara, Jakarta Selatan dengan ketinggian air mencapai 1 Meter.
Banjir 2016 paling dahsyat, mencapai kedalaman 5 meter. Pada 2013, banjir mencapai kedalaman hanya 60 Cm hingga 100 Cm di wilayah Utara. Pada tahun sama, 15 November, rata-rata kedalaman hingga 50 Cm hingga 100 Cm, khususnya di Jakarta Timur. Harian Republik (28/4/2016) melaporkan, banjir April 2016 menyebabkan Ahok marah-marah kepada Walikota Jakarta Utara, Rustam Effendi, hingga Rustam meletakkan jabatannya.
Kesimpulannya, Ahok ternyata tak mampu dan gagal pecahkan masalah banjir Ibukota. Banjir di jalanan terus dan belum berkurang signifikan. Jakarta kembali kebanjiran saat hujan deras turun.
Ada kritikan gaya orang Betawi di media sosial, “...Ahok, bacot loe aja yang gede. Bilang Jakarta udah bebas banjir, bilang Jakarta saat ini kalau hujan gede paling ada genangan air setengah jam sampai 1 jam. Kagak ade buktinye, Hok… Loe bilang udah kerukin tuh kali-kali Ciliwung, loe malah udah gusur-gusur tuh warga Kampung Pulo dan wilayah lain pinggir kali. Lu juga ngabisin duit Pemprov untuk bikin Pasukan Orange, Pasukan Lele, Pasukan Kodok sama pasukan nasi bungkus elu di Detiknews. Kagak ade buktinya. Hok, Jakarta masih banjir, ngkoh. Elu ngak liat ape. Ujan dari jam 3 sampai jam 6 hampir seluruh Jakarta terendam aer.” Oleh MUCHTAR EFFENDI HARAHAP (Ketua Dewan Pendiri NSEAS, Network for South East Asian Studies).Jika berkenan, sila sebarluaskan.Trims

Post a Comment