Oleh : Syukron Mahmun
Machiaveli adalah anak zaman renaisans Eropa tepatnya 1467- 1527M. Para sejarawan hampir seluruhnya menyatakan begitu pentingnya masa renaisans bagi peradaban eropa dan barat. Renaisans lahir dan tumbuh hasil dari masa kelam Rusade War (Perang Salib) namun eropa khususnya italia dan kawasan mediterania begitu hebat memanfaatkan situasi perang salib sebagai gerakan intelektual mempelajari dan mentransformasi warisan intelektual yunani-romawi dalam terjemahan-terjemahan bahasa arab dan gerakan kontak lalu lintas perdagangan dan merkantilisme justru begitu intensif. Renaisanse juga melahirkan pertikaian diskursus agama dan ilmu pengetahuan yang membuahkan tirani kekuasaan terhadap para cendikiawan kontra kekuasaan gereja.
The prince sebagai salah satu karyanya yang ingin menyampaikan penolakannya terhadap aquinas atas karyanya the government of princes dalam relasi kekuasaan, moralitas dan agama bahwa segala kebajikan, agama, moralitas justru harus dijadikan alat untuk memperoleh dan memperbesar kekuasaan, namun tetap mempertahankan ritus-ritus ibadah keagamaan sebagai tujuan untuk memelihara dari kebobrokan (korupsi). Dari berbagai karyanya yang monumental seperti the prince, the discourses, history of florence, art of war, dialogue on language, discourses upon lyvi ada beberapa poin-poin pemikiran atas karyanya yang relevan atas tema yang penulis hadirkan, diantaranya yaitu :
Pertama, dalam mempertahankan kekuasaan harus membumi hanguskan seluruh keluarga penguasa lama untuk menghindari benih-benih ancaman terhadap kekuasaannya.
Kedua, melakukan ekspansi kolonialisasi. Dalam ekspansi kolonialisasi, machiavelli membolehkan cara-cara keji dan kejam namun jangan terlalu sering agar ada jeda dan ruang membangun simpati dan dukungan kembali dengan memberikan fasilitas agar rakyat memiliki ketergantungan kembali.
Ketiga, kekuasaan harus diperkuat dan dipersenjatai kekuatan militer, menurutnya kekuatan militer merupakan basis penting seorang penguasa negara.
Keempat, aparat kekuasaannya dan aparat militer harus selalu disiplin dan terbiasa hidup dengan cara keras. Dengan demikian tubuhnya akan terbiasa dengan penderitaan.
Kelima, penguasa perlu mempelajari sifat-sifat terpuji dan tak terpuji guna dapat memetakan dan menghadapi lawan politik dan rakyatnya dengan cara halus (sifat manusia) atau kasar (sifat binatang).
Poin-poin serakan pemikiran Machiavelli sengaja penulis batasi guna mengambil relevansi konteksitas Jakarta yang semakin sesak dengan agitasi para kontestan termasuk petahana beserta para suporternya yang hendak memperebutkan kursi Jakarta satu di 2017. Jakarta, bukanlah Negara kota yang di gambarkan oleh Plato juga bukan kota yang baru jika mengambil hari kelahirannya yang ke-590. Ia dirancang oleh berbagai rezim, juga digambarkan rakyatnya (kaum betawi-red) adalah hasil meltingpot entitas etnisitas dunia dan hingga hari ini haruslah kita sandarkan referensi kita pada pusat Badan Statistik 2015 bahwa masyarakat jakarta berjumlah .. dan mengacu jumlah pemilih PILKADA 2012 berjumlah ..
Dalam konteks suksesi kekuasaan pemerintahan DKI 1 melalui jalur PILKADA, Jakarta baru dua kali mengalaminya namun telah memiliki 3 tipikal kepemimpinan Gubernur yaitu Fauzi Bowo, Joko Widodo dan Bambang Cahaya Purnama ( Ahok). Bila kita ditinjau kembali melalui alur sejarah pra kemerdekaan maka jakarta telah pernah dipimpin oleh Gubernur Jendral.
Jakarta merupakan pusat pembangunan Indonesia terutama di saat rezim orde baru, proses desentralisasi melalui otonomi daerah sebagai wujud pemerataan pembangunan Indonesia yang dilanjutkan dengan membangun Indonesia melalui pinggiran atau program desa membangun belum juga mengurai jumlah penduduk Jakarta, karena Jakarta adalah Pusat Pemerintahan, Pusat Bisnis, pusat kebudayaan, pusat pertahanan negara. Justru Jakarta terus berpeluang membuka potensi bertambahnya jumlah penduduknya melalui pembangunan seribu tower RUSUN dan APARTEMEN.
Bahaya Neo Machiavelisme di Jakarta merupakan refleksi atas tipelogi kepemimpinan yang sedang di lakukan oleh Gubernur Basuki Bambang Cahaya Purnama atas perilaku dan komunikasi politiknya. Gambaran lima poin di atas menjadi cetak buram Jakarta beberapa dekade terakhir melalui realitas perilaku dan komunikasi politiknya di lapangan. Kepemimpinan ahok di jakarta seharusnya menjadi pembuka lembaran sejarah baru atas ;
Pertama, transformasi budaya organisasi perusahaan yang disiplin, efesiensi, target oriented, akuntable namun menghargai dan menghormati nilai-nilai dan prinsip-prinsip ketatanegaraan karena ahok menjabat Gubernur bukan seorang CEO.
Kedua, transformasi pluralisme karena keberadaan ahok menjadi pemimpin Jakarta yang mayoritas beragama Islam.
Ketiga, transformasi budaya karena salah satu kekayaan Jakarta adalah adanya beragam ras dan suku yang tidak hanya dari nusantara dan budaya tionghowa begitu melekat pada unsur dan instrumen budaya betawi selain budaya arab dan eropa.
Keempat, transformasi supremasi hukum karena jakarta adalah pusat pemerintahan dimana seluruh kantor pusat penegakan supremasi hukum berada di jakarta dan ahok seharusnya menjauhkan keluarganya dan orang-orang yang dianggap mempunyai kepentingan besar terhadap kebijakan dan kewenangan yang diberikan oleh negara.
Beberapa peristiwa dalam dekade terakhir bukannya membuka lembaran sejarah baru sebagaimana zaman renaisanse sebagai pembuka peradaban barat namun justru ahok membuka tabir jakarta kedalam bahaya neo machiavelisme. Hal tersebut dapat kita lihat pada :
Pertama, gaya komunikasi ahok yang seolah seorang destrayor bukan seorang negarawan, umpatan terhadap lawan politiknya terutama mitra kerjanya di legislatif hampir seluruhnya dibumi hanguskan, hingga instrumen negara seperti partai dan BPK tanpa argumentatif yang berkualitas dilontarkan secara membabi buta. Bahasa binatang kepada anak buah dan rakyatnya yang dianggap berbeda dan salah, seringkali menjadi makian bukannya dilakukan dengan komunikasi rahmatan justru menjadi justifikasi pembenaran dirinya padahal ia seorang pemimpin yang seharusnya mengedepankan dan mencontohkan equel of law dan praduga tidak bersalah.
Kedua, proses penggusuran beberapa wilayah di jakarta disinyalir mirip dengan proses ekspansi kolonialisasi ala machiavelli, penggusuran dilakukan dengan cara tidak manusiawi (keji dan kejam) tanpa membangun komunikasi intens guna membangun kesadaran dan solusi mufakat bersama. Serta tidak menghargai penguasaan dan kepemilikan hak atas tanah orang yang digusur. Dan lebih berbahaya disinyalir bahwa area-area penggusuran paksa adalah target areal pembangunan mitra pengusaha dan atau areal penghubung dan atau view pembangunan gedung komersial. Dalam setiap penggusuran ahok membawa angin sorga dengan menghadirkan rusun sebagai tempat tinggal yang lebih manusiawi, ataupun memberangkatkan umrah muadzin dan merbot dari dana CSR guna membangun simpati dan ketergantungan kembali. Pasukan orange dan para pegawai honorer di DKI Jakarta dimanusiakan honorariumnya juga bukan tanpa pesan kepentingan, dan menjadi konsumsi publik bahwa pasukan orange dimintakan KTP-nya guna membantu kawan ahok dalam mensukseskan pengumpulan KTP guna pencalonanan bakal calon gubernur DKI melalui jalur independen.
Ketiga, kekuasaan ahok selalu menggunakan instrumen aparat militer sebagai basis pertahanan dan ekspansi kolonialisasinya, hal yang ironis pada proses penggusuran dimana instrumen aparat TNI turut serta dalam barisan penggusuran dan penyelaman gorong-gorong guna mengecek sumbatan dilakukan oleh aparat elit TNI AL. Penggiringan dan hegemoni aparat polisi dan militer bukan tanpa cek kosong, hal tersebut dapat dilihat dimana aliran dana CSR membangun infrastruktur berupa gedung parkir kantor kepolisian di duga menjadi mahar hegemoninya. Seharusnya dana CSR lebih diarahkan pada pembinaan dan pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat jakarta.
Keempat, ahok membangun sistem pembagian tugas dan target orientasi para bawahannya sebagai bentuk disiplin, bentuk disiplin tersebut lebih diutamakan untuk memantau proses ketertiban lingkungan terutama hama-hama PKL yang menggganggu keindahan Jakarta, waspada banjir dengan normalisasi selokan dan aliran air setiap sudut kota dan kampung. setiap moment penggusuran dan eksekusi atas kebijakan yang tidak populis adalah uji loyalitas para bawahannya terhadap rezim tiran ahok sebab setiap proses penggusuran yang berdampak perlawanan besar, ahok selalu absen di lapangan. Loyalitas dan kepatutan disiplin atas target operasi yang telah diberikan dengan ketulusan oleh anak buahnya lebih banyak tidak berikan penghargaan justru makian dan cacian bila tidak sesuai selera atas target operasi bukan ukuran SOP atas pembangunan etika dan disiplin aparatur sipil negara. Banyak argumentatif yang berkualitas dan membangun yang dapat disampaikan oleh setiap anak buahnya baik di lingkungan pemda maupun di BUMD yang mengundurkan dirinya dari jabatan strategis besar maupun kecil dilingkungannya, bukannya mereka tidak mampu memberikan energi perubahan besar, target cepat dan tekanan yang tak nyaman sebagaimana selera dan advice ahok namun mereka lebih tidak nyaman atas proses komunikasi buruk yang menjadi tipikal bawaannya ahok.
Kelima, ahok juga manusia yang memiliki keyakinan keagamaan. Sifat-sifat manuasi yang terpuji dan buruk yang menjadi tanda atas peringai dan karakter ketimuran. Sifat-sifat terpuji menjadi pedoman dalam bermasyarakat dan bernegara. Sikap tegas dan bersih ahok oleh para pendukung dan simpatisannya dijadikan modal kampanye dan ekspose citra media. Sifat terpuji yang dimiliki ahok versi tim kampanyenya ala machiavelli inilah yang penulis duga, diarahkan menjadi trand tema penggiringan isu sara. Isu kepemimpinan non muslim dan isu pemimpin non muslim tidak dzolim menggiring kepada polarisasi taktik dan strategi serta pengalihan isu-isu besar Jakarta yang seharusnya ditangani secara profesional, manusiawi dan di proses dengan penegakan supremasi hukum.
Kelima poin diatas hanya bagian kecil dari tanda-tanda bahaya tiran ahok ala neo machiavelli. Ahok adalah anak zaman peradaban tehnologi yang tentu gaya tiran neo machiavelli mempunyai sentuhan dan gaya berbeda dari penganut sebelumnya seperti adolf hitler, benito mussolini dan franco. Itulah tugas tim tingtang politiknya membangun, membentuk dan mengarahkan strategi politiknya membuka dan mengamankan jalur oligarki atas ambisi kepentingan ekonomi para cukong yang ingin mempertahankan kekayaannya di Jakarta dan ingin ekspansi ke sudut nusantara. Maka Jakarta menjadi barometer karir politik ahok dan relasi oligarki kekuasaan ekonomi di 2017 dan terus melanjutkan oligarki kekuasaan ekonomi dan politik di 2019 atau 2024. Babak baru jurus bumihangus rakyat jakarta khususnya masyarakata Betawi melalui program Bebas biaya PBB dibawah 1 Milyar adalah program kamuplase para Oligarki yang ingin menguasai tanah-tanah Jakarta. Juga program e-budjeting di duga adalah cara halus dari skenario besar menyingkirkan pengusaha lokal dan kelas menengah yang mempunyai integritas dan komitmen membangun Jakarta bersih dan berwibawa. Belum lagi banyak pihak yang menyangsingkan kebobrokan supremasi hukum yang berkaitan langsung dengan dugaan skandal mega korupsi ahok.
Gus Mus saat ditanya tentang bahaya rokok oleh aktifis anti tembakau, Beliau menarasikannya hingga kesimpulannya gusmus menyampaikan bahwa “yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya melainkan pikiran-pikirannya”. Lantas, selanjutnya bila kita sandingkan machiavelli dengan adolf hitler, “lebih bahaya mana antara machiavelli dengan adolf hitler... Penulis tak menjawabnya di tulisan ini, hanya penulis ingat seorang sosok mantan gubernur yang begitu bersahaja, berkharisma dan berwibawa walau kumisnya dibentuk menyerupai hitler dan ditempa di kampung hitler namun Beliau tetap berwatak, berprilaku dan berkomunikasi ala masyarakat Jakarta, Beliau tidak harus menjadi seorang berwatak Adolf Hitler.
* Penulis adalah pengamat politik GODEL Institute

Post a Comment